Lereng muria – Lebaran ketupat pada umumnya jatuh pada hari ke 7 setelah Hari Raya Idul Fitri. Sebagian besar masyarakat Muslim Jawa membuat hidangan ketupat dan lepet. Dan tidak ketinggalan sayur pasangannya yaitu semur.
Merebus ketupat lepet memang membutuhkan waktu sekitar 5-7 jam dengan nyala api yang maksimal. Itu pun air harus melimpah dan memenuhi pancinya (ompreng). Setelah dirasa sudah matang, dapat diangkat dan digantungkan di tembok atau dinding rumah. Dengan harapan lebih awet dan tidak mudah membusuk karena kondisi ketupat lepet kering.
Di berbagai daerah berlaku tradisi menggantung ketupat lepet di gagang pintu masuk rumah. Ketupat lepet yang digantung jumlahnya bervariasi mulai 2-4 pasang. Ketupat lepet pun yang digantung dalam kondisi masih hangat dan diangkat dari panci besar yang pertama. Ketupat lepet tersebut digantung sampai mengering, setelah itu baru dibuang.
Berbagai tujuan ketika memasang pasangan ketupat lepet di gagang pintu masuk rumah. Konon, digunakan untuk menyambut dan memberi “makan” kepada roh anak kecil empunya rumah yang berkunjung pada waktu hari Lebaran. Maka bagi keluarga yang memiliki anak kecil yang sudah meninggal adalah suatu keharusan untuk memasang ketupat lepet di gagang pintu rumah. Oleh karena itu, Lebaran ketupat disebut juga Bada Kecil yang artinya hari rayanya anak kecil. Baik anak kecil yang sudah meninggal dunia atau yang masih hidup di alam dunia.
Selain untuk menyambut roh anak kecil yang meninggal, ketupat lepet dapat juga untuk memberi “makan” kepada arwah para leluhur yang sudah kembali ke alam kubur. Terutama bapak ibu yang sudah meninggal.
Konon, ketupat lepet dapat digunakan untuk penolak bala. Bala di sini berupa penyakit, kesialan, ketidakberuntungan, gangguan makhluk gaib dan lain sebagainya.
Ketupat yang digantung di gagang pintu juga dimaknai permohonan maaf kepada kerabat atau pun tetangga terdekat. Karena ketupat berasal dari kata “kupat” yang berarti mengakui kalepatan (kesalahan).
Meskipun jaman berkembang sesuai alurnya, tetapi Lebaran Ketupat tetap berjalan seperti biasanya. Walaupun terkadang hanya sebagai hidangan istimewa penutup hari raya (hari ke tujuh), ketupat lepet masih besar penggemarnya baik di kota maupun desa.
Wartawan:ek
Editor:amt




