Logo Lerang Muria Baru 500px Hitam

PUNAHNYA TRADISI KONDANGAN LEBARAN KETUPAT DI PINGGIR KEDUNG

Ilustrasi tradisi kondangan ketupat di pinggir kedung suatu sungai pada jaman dahulu (Foto: Antara News)
Ilustrasi tradisi kondangan ketupat di pinggir kedung suatu sungai pada jaman dahulu (Foto: Antara News)

Lereng muria –             Berbagai tradisi mengiringi hari Lebaran Ketupat di masyarakat Muslim Indonesia. Tradisi tersebut mulai dari kondangan di masjid/mushola, di sendang keramat, punden keramat dan lain sebagainya.

Salah satu tradisi yang sudah punah adalah kondangan di pinggir kedung sebuah sungai/kali. Kedung adalah bagian sungai yang dalam dengan air yang tenang. Pada jaman dahulu, kedung ini digunakan untuk memandikan ternak sapi atau pun kerbau. Selain itu, kedung juga digunakan mandi dan arena bermain oleh anak-anak desa.

Pada pagi hari waku Lebaran Ketupat, beberapa warga yang memiliki ternak sapi atau kerbau membawa ketupat, lepet dan sayur semur dibawa ke pinggir kedung. Maka terkenal dengan sebutan kondangan ketupat di pinggir kedung. Tentu saja yang melakukan kondangan adalah warga yang memiliki ternak dan terbiasa dimandikan di kedung tersebut.

Kondangan ketupat tersebut merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas keselamatan keluarga, ternak dan diberikan melimpahnya air di sungai yang dapat digunakan untuk memandikan hewan peliharaannya. Selain itu juga wujud penjagaan dan pemeliharaan terhadap sumber daya alam yang ada.

Acara dimulai dengan berkumpulnya para pemilik ternak yang mencapai puluhan orang. Setelah itu, peternak tersebut memandikan kerbau atau sapinya terlebih dahulu. Setelah selesai, hewan ternak diikat di pinggir kedung. Warga yang hadir berdoa bersama dengan khidmat dan sepenuh hati agar diberikan keselamatan serta murah sandang pangan.

Acara berdoa selesai, dilanjutkan menikmati ketupat dan lepet yang disertai sayur semur secukupnya. Sisa dari ketupat dan lepet dibawa pulang kembali.

Di Dukuh Wonosemi Desa Semirejo Kecamatan Gembong Kabupaten Pati Jawa Tengah, tradisi kondangan ketupat di pinggir kedung sudah punah. Tradisi tersebut ada sekitar tahun 1970-1990. Pada tahun itu, masih banyak warga yang memiliki ternak sapi atau pun kerbau yang digunakan untuk membajak sawah. Jaman sekarang, membajak sawah tidak usah menggunakan hewan ternak tetapi menggunakan mesin traktor dan lebih hemat.

Kedung yang sering digunakan untuk kondangan ketupat adalah kedung Tapak, Guyangan dan Ndoro. Ke tiga kedung tersebut sudah hilang seiring dengan perjalanan waktu karena adanya penambangan tanah urug di Desa Semirejo dan sekitarnya.

Hilangnya hewan ternak untuk membajak sawah dan kedung karena ulah perbuatan manusia yang bermotif ekonomi maka punahlah tradisi kondangan di pinggir kedung. Dan yang berkembang adalah kondangan ketupat di rumah, masjid/mushola, tempat keramat dan lain sebagainya.

 

Wartawan:ek

Editor:amt

Spesial Produk Kopi

Berita Lainnya