Lereng muria – Kegiatan menjelang bulan Ramadhan atau Puasa sangat beragam yang diselenggarakan menyambut bula suci umat Islam tersebut. Salah satu kegiatan yang lagi ramai diadakan adalah Ruwahan atau Megengan.
Masyarakat menyelenggarakan Ruwahan itu dengan tujuan untuk mendoakan ruh para leluhur yang sudah meninggal dan berbagi dengan sesama. Pada umumnya warga membawa berkat ( satu dus nasi) dibawa ke mushola atau masjid terdekat sambil membawa amplop yang berisi sedekah berupa uang dan tulisan para leluhur yang dikirimi doa.
Tetapi warga Dukuh Ngembes Desa Gembong Kecamatan Gembong Kabupaten Pati Jawa Tengah, selain membawa berkat ke masjid atau mushola terdekat, juga mengadakan acara Ruwahan di rumah masing-masing. Warga Dukuh Ngembes menyiapkan 3-10 nasi berkat untuk acara di rumah.
Setelah nasi berkat sudah siap di meja, maka diundanglah para tetangga sekitar untuk hadir dan berdoa bersama. Tidak ketinggalan pemimpin doa diundang untuk membaca doa atau “nanduke” (Bahasa Jawa) yang biasanya tokoh agama setempat. Pada umumnya Mbah Modin atau warga sepuh (tua) yang dianggap mumpuni di bidang agama.
Di dalam kegiatan tersebut juga dibacakan para leluhur yang dikirimi doa dan tetangga yang diundang juga ikut mendiakan seraya mengucapkan kata “Aamiin”. Begitu acara selesai, nasi berkat tersebut dibagikan ke tetangga yang hadir dan pemimpin doa juga mendapat tambahan amplopan atau bisaroh. Beberapa desa menyebut bisaroh dengan sebutan “wajib”.
Kegiatan Ruwahan di rumah sudah menjadi kebiasaan bagi warga Dukuh Ngembes Gembong tersebut. Seperti yang dituturkan oleh Nur Rochim (46 tahun) bahwa Ruwahan di rumah dengan mengundang tetangga dekat sudah merupakan tradisi. “Acara Ruwahan dengan mengundang tetangga terdekat sudah tradisi bagi kami. Selain itu kami juga membawa berkat di mushola. Dengan Ruwahan di rumah ini kami dapat berbagi dengan tetangga berupa nasi berkat. Pada hari yang lain, tetangga juga mengundang saya untuk Ruwahan atau hajatan di rumahnya. Dan ini sudah menjadi tradisi dari jaman dulu. Kalau tidak dilaksanakan kok rasanya kurang mantap,”tutur Nur Rochim yang juga pedagang oleh-oleh khas Gembong ini sembari tersenyum.
Dengan mengadakan Ruwahan di rumah dan mengundang tetangga terdekat ini memang positif karena antar warga dapat saling berbagi nasi berkat yang lezat rasanya. Dan nilai saling berbagi tetap terjaga dengan baik di masyarakat. Tentu saja nilai spiritual relegius berupa mendoakan para leluhur juga tidak luntur dan terjaga dengan baik.
Wartawan:ek
Editor:amt




