Lereng Muria – Indonesia merupakan negara agraris yang didominasi oleh lahan pertanian yang luas. Lahan pertanian tersebut banyak yang ditanami padi sebagai bahan makanan utama rakyat Indonesia. Maka tidak mengherankan apabila padi menjadi tumpuan utama kehidupan masyarakatnya.
Untuk menghasilkan padi yang berkualitas dan bebas dari gangguan hama burung emprit, para petani tradisional Indonesia menggunakan berbagai macam cara. Salah satunya dan sekarang sedang “booming” atau populer adalah dengan menggunakan barang-barang yang mampu memantulkan cahaya mengkilap dan menghasilkan suara ribut di area persawahan. Barang-barang tersebut berupa tali perak, CD bekas, pita bekas, rafia, alumunium foil, plastik dan lain sebagainya.
Cahaya pantulan mengkilap tersebut akan muncul apabila terkena sinar matahari sedangkan suara ribut dan berisik akan terdengar apabila benda tersebut ditiup angin.
Ternyata, burung emprit dan sejenisnya ada efek ketakutan apabila melihat kilauan yang selalu bergerak dan berkedip. Hal itu dianggap sebagai sesuatu yang hidup atau berbahaya dan membuat burung emprit takut untuk hinggap. Dan dianggap predator yang membahayakan keselamatan bagi burung emprit.
Benda-benda mengkilap terutama yang dapat menghasilkan bunyi, menciptakan lingkungan yang tidak tenang atau keributan bagi kawanan burung emprit.
Pemanfaatan benda-benda mengkilap ini akan sangat efektif apabila matahari terik karena pantulan cahayanya akan maksimal. Didukung tiupan angin yang kencang, maka akan menghasilkan bunyi yang menderu-deru sehingga kawanan burung emprit ketakutan.
Wartawan:ek
Editor:and




