Lereng muria – Sekitar satu pekan, suasana hari Lebaran dan halalbihalal membersamai kita. Warga Muslim Indonesia dengan segala potensi yang ada menyambut dan merayakan hari gembira tersebut. Mulai dari berkunjung ke rumah saudara, pulang kampung, kembali ke dunia kerja, lebaran ketupat, reuni, dan lain sebagainya.
Mendekati pertengahan bulan Syawal 1447 H, kondisi kehidupan sudah berbeda dan bertahap kembali ke kehidupan normal. Itu dapat dilihat dari kembali hingar-bingarnya dunia seni hiburan tradisional masyarakat Jawa, yaitu kethoprak. Setelah satu bulan tidak mendapatkan job atau order, bahasa Jawanya “tanggapan” karena bulan Ramadhan atau Puasa, grub kethoprak dapat tersenyum lega. Pasalnya, job pentas atau manggung sudah tertata rapi dan tinggal menjalankan seperti biasanya.
Pada hari Rabu (1/4/2026), berbagai grub kethoprak terkenal dari Kabupaten Pati, Rembang, Blora dan Tuban sudah pentas di berbagai daerah. Di Kabupaten Pati ada 4 grub kethoprak yang manggung yaitu Wahyu Budoyo (Dukuhseti Pati), Bhakti Kuncoro (Batangan Pati), Wahyu Manggolo (Jakenan Pati) dan Agung Budoyo (Kaliori Rembang). Di Kabupaten Rembang ada 2 grub kethoprak yang manggung yaitu Kridho Carito (Jaken Pati) dan Kridho Mudho Sondong Majeruk (Kaliori Rembang).
Di Kabupaten Blora Mustika juga ada 2 grub kethoprak yang unjuk kebolehannya yaitu Siswo Budoyo (Juwana Pati) dan Gilar Tri Budoyo (Blora Kota). Tidak ketinggalan, di Kabupaten Tuban Jawa Timur juga ada 3 kethoprak terkenal yang menghibur masyarakat yaitu Mustiko Budoyo (Blora Kota), Citra Manunggal (Jatirogo Tuban) dan Samudro Budoyo (Sale Rembang).
Dengan berbagai kelebihan dan keunggulan masing-masing, grub kethoprak tersebut memberikan tontonan dan juga tuntunan kepada masyarakat sekitar. Dapur para pemain atau seniman kethoprak pun kembali mengepul. Rupiah demi rupiah mengalir lagi untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan ditabung untuk keperluan jangka panjang.
Yang tersenyum tidak hanya seniman kethoprak, para penjual makanan, minuman, permainan dan lain sebagainya juga mendapatkan berkah dari hadirnya sebuah grub kethoprak di tempat itu. Bahkan tukang parkir juga mendapatkan cipratan rejeki dari pentasnya kethoprak. Apalagi kethopraknya terkenal, maka penonton pun membludak, pedagang laris dan jasa parkir juga ikut tersenyum lebar.
Ekonomi berputar dengan baik berkat hadirnya kethoprak di kehidupan masyarakat. Masyarakat terhibur, seniman panen order manggung dan pedagang siap “mpremo” (berjualan).
Wartawan:ek
Editor:amt




