Lereng muria – Ujian Praktik Seni Budaya dan Bahasa Jawa SMAN 3 Pati yang menyuguhkan drama musikal memberikan warna tersendiri bagi dinamika budaya bagi siswa. Kemampuan, minat dan bakat siswa dapat tergali lewat penampilan drama musikal tersebut.
Ketrampilan dan keahlian dimunculkan dalam rangka untuk menutupi berbagai kekurangan yang ada. Maka tampillah penata rias atau tukang rias dadakan dari kelas XII. Penata rias, yang bahasa kerennya Make Up Artist (MUA) tidak hanya menata perpaduan warna bedak pada wajah tetapi juga menyesuaikan peran masing-masing tokoh serta bentuk wajah. Penata rias tidak hanya membedaki wajah saja tetapi menata rambut juga.
Atas peran tangan dingin penata rias dadakan ini dihasilkan berbagai variasi wajah yang berperan sesuai tokoh yang diperankan seperti peran tua, muda, jahat, lemah lembut, kekanak-kanakan, seram dan lain sebagainya.
Beberapa penata rias dadakan yang ikut menyukseskan pementasan drama musikal adalah Khalisa Haura, Shofia Citra dan Reva Arthavia. Mereka memiliki kemampuan yang sepadan dan pengalaman berbeda-beda. Dari tangan dingin mereka maka berubahlah wajah teman-teman yang diriasnya.
Menurut penuturan dari Reva Arthavia remaja yang berdomisili di Badegan Margorejo ini bahwa pada waktu persiapan drama musikal, dia membantu merias wajah teman-temannya dengan kemampuan yang patut diacungi jempol. “Saya merias ada 3 orang dan membantu menyempurnakan riasan wajah teman. Make up yang dipakai milik teman-teman sendiri, saya tinggal merias saja,”tutur Reva.
“Untuk ketrampilan merias ini saya belajar dari internet karena sejak SMP sudah sering tampil di lomba fashion show sehingga memiliki ketrampilan rias wajah dan yang menjadi ajang uji coba pertama kali adalah mamah saya,”tutur Reva sambil tersenyum.
Hal yang tidak jauh berbeda disampaikan oleh Khalisa Haura bahwa pada acara itu dia mampu merias 7 temannya dengan tipe wajah dan peran yang berbeda. “Saya merias 7 teman saya dengan peran yang berbeda dan make up ini milik saya sendiri. Teman-teman cukup puas dengan tata rias saya”tutur Khalisa.
“Saya praktek pertama kali kepada teman-teman SMP dan hasilnya bagus. Saya sering melihat ketika ibu berdandan sehingga mampu untuk menirukannya. Selain itu saya juga menggunakan feeling (perasaan) saya ketika merias wajah,”imbuh Khalisa yang berdomisili di Margorejo ini. “Sebenarnya dulu saya mau masuk sekolah jurusan kecantikan di SMK tetapi tidak mendapat respon dari orang tua,”imbuhnya lagi.
Hal yang sama dituturkan oleh Shofia Citra bahwa kemampuan merias wajah temannya merupakan bakat alam dan mengalir begitu saja. “Alhamdulillaah, saya mampu membantu teman-teman untuk menjadi penata rias. Ada sekitar 8 teman yang saya rias dan make upnya berasal dari milik teman-teman sendiri,”tutur Shofia remaja dari Tambakromo ini.
“Saya belajar secara autodidak, melihat di tiktok dan tidak pernah kursus tata rias. Saya mencoba praktik merias wajah ketika kelas XI dulu,”tutur Shofia. Ketika ditanya apakah bercita-cita ingin menjadi MUA profesional, dengan lugas Shofia menyatakan tidak berminat untuk menekuni dunia tata rias.
Penata rias ini memang sangat dibutuhkan di dunia panggung atau pentas. Mereka bekerja di belakang layar dan mampu merubah wajah sesuai dengan tokoh yang dimainkan. Dan tentu saja tata rias dadakan ini tidak dibayar alias gratis karena pentas yang ditampilkan bersifat non profit atau tidak mencari untung dan bersifat suka rela. Yang dilakukan dengan rasa ikhlas membantu teman demi lancarnya drama musikal.

Wartawan:ek
Editor:amt




