Lereng muria – Di Indonesia, Hari Raya Idul Fitri 1447 H di rayakan selama dua hari, yaitu tanggal 21 dan 22 Maret 2026. Masyarakat Muslim bebas memilih untuk merayakannya. Ada yang hari pertama (21/3/2026) setelah sholat Idul Fitri dan ada juga yang merayakan pada hari ke dua (22/3/2026). Semua tergantung adat tradisi suatu desa atau daerah.
Tetapi di Desa Mojoluhur Kecamatan Jaken Kabupaten Pati Jawa Tengah, penentuan meramaikan hari raya ditentukan oleh persetujuan dan saran dari kepala desa. Di desa tersebut memiliki kepala desa yang memiliki keahlian ilmu “petungan” (perhitungan ) Jawa. Melalui ilmu tersebut, sang kepala desa atau sering disebut Pak Petinggi (Pak Inggi) menghitung hari yang baik dari dua tanggal perayaan.
Dan untuk hari Lebaran tahun ini, berdasarkan hitungan Pak Inggi jatuh pada hari Sabtu Pahing (21/3/2026) atau hari pertama. Karena berdasarkan hitungan atau “petungan”, hari Sabtu Pahing lebih baik dibanding hari Minggu Pon (hari ke dua). Sehingga warga Desa Mojoluhur merayakan Hari Raya Idul Fitri pada hari pertama.
Warga melakukan silaturahmi ke orang tua, sanak saudara dan tetangga pada hari pertama. Kegiatan masak memasak yang ada hubungannya dengan hari raya juga dilakukan pada hari itu, diantaranya memasak opor, semur, lodeh dan lain sebagainya. Termasuk juga bersilaturahmi ke perangkat desa juga dilakukan pada hari pertama.
Pada hari ke dua, situasi desa sudah sepi. Hanya beberapa orang yang masih berkunjung dan kehadiran tamu dari luar desa. Bahkan warga Desa Mojoluhur bersilaturahmi ke sanak kerabat di luar desa.
Seperti penuturan dari Mbah Mardi (62 tahun) salah satu warga Mojoluhur bahwa hari raya tahun ini diramaikan pada hari pertama dan hari ke dua sudah sepi. “Tahun ini (2026), hari pertama yang ramai sedangkan hari ke dua biasa-biasa saja. Pak Kepala Desa menyarankan begitu, yaa kami mengikuti sarannya,”tutur Mbah Mardi kepada Lerengmuria.com di rumahnya.
Saran dari kepala desa merupakan fenomena menarik dalam perayaan hari raya. Dan itu sudah menjadi tradisi tersendiri di suatu desa yang dianggap kearifan lokal.
Wartawan:ek
Editor:amt




