Lereng muria – Pada hari Jumat (12/12/2025), pada sore hari yang cerah datanglah mobil pengangkut sepeda motor di Blok I-2 Perum Rendole Indah Desa Muktiharjo Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati Jawa Tengah. Turunlah sepeda motor baru merek Scoopy berwarna putih di depan rumah tetangga, Pak Yulianto. Alhamdulillaah, sepeda motor baru dan masih gress alias buka bungkus.
Pada hari Sabtu pagi (13/12/2025) beredarlah jajan pasar dan bubur merah putih ke rumah beberapa tetangganya. Sodaqoh atau selamatan sepeda motor baru. Sesuai tradisi masyarakat Jawa, ketika memiliki sesuatu yang baru maka diadakan selamatan jajan pasar dan bubur merah putih.
Jajan pasar tersebut berupa cetot, tiwul, getuk, pertola, tape, ketan, grontol dan lain sebagainya. Jajan pasar tersebut dibungkus daun pisang sehingga terlihat segar dan alami.
Untuk bubur merah putih, disajikan dalam keadaan masih hangat. Diletakkan di piring yang beralaskan daun pisang juga. Semua terlihat begitu serasi dan Njawani.
Itulah kearifan lokal masyarakat Jawa dimanapun berada. Tidak lepas dari tradisi yang sudah dijalaninya dari generasi ke generasi dan turun temurun dari nenek moyang.
Jajan pasar dan bubur merah putih yang disedekahkan kepada tetangga dimaknai sebagai pembuka rejeki dan penolak bala atau kesialan. Selain itu untuk meningkatkan rasa kekeluargaan, komunikasi, persaudaraan, silaturahmi dan rasa berbagi.
Jajan pasar yang terdiri dari beraneka ragam menu dikandung maksud agar mendapatkan rejeki yang beraneka ragam dan ramai seperti ramainya pasar tradisional. Keramaian dalam hal positif inilah yang diharapkan. Selain itu diharapkan rejekinya mengalir dari berbagai macam sumber kehidupan.
Bubur merah rasanya manis dan bubur putih lezat mengandung makna lezat dan manisnya kehidupan. Dengan harapan diberikan sesuatu yang indah, manis dan lezat dalam kehidupan sehari-hari. Kelezatan dan kemanisan ini yang diharapkan bagi yang sedang selamatan Scoopy baru.
Pepatah Jawa mengatakan “bubur putih nyisih bubur abang nyimpang”. Pepatah tersebut bermaksud segala halangan, rintangan, kesialan dan mara bahaya agar menjauh (nyisih) dan menyimpang (menghindar) dari kehidupan. Dapat dikatakan bubur merah putih bermakna penolak bala dan kesialan.
Itulah kearifan lokal masyarakat Jawa yang penuh dengan filosofi yang penuh dengan makna yang mendalam. Semua perlu penjabaran dan pencerahan agar generasi muda dapat memahaminya.
Jadi tidak menelan mentah jajan pasar dan bubur merah putih hanyalah berupa makanan semata tetapi berupa permohonan doa keselamatan dan lancar rejeki. Tentu saja doa tersebut ditujukan kepada Allah SWT semata agar yang memiliki hajat tetap diberikan kelancaran rejeki dan dijauhkan dari mara bahaya. Aamiin yaa Allaah.
Wartawan:ek
Editor:amt




