Logo Lerang Muria Baru 500px Hitam

TAYUB DALAM KETHOPRAK

Warga Dukuh Mlawat Desa Baleadi Pati sedang "nayub" dalam acara sedekah bumi yang dimeriahkan oleh Kethoprak Cahyo Mardhiko dari Jakenan Pati
Warga Dukuh Mlawat Desa Baleadi Pati sedang "nayub" dalam acara sedekah bumi yang dimeriahkan oleh Kethoprak Cahyo Mardhiko dari Jakenan Pati

Lereng Muria –              Sedekah bumi di Kabupaten Pati memang tidak bisa lepas dari kesenian sandiwara kethoprak. Walaupun sebenarnys masyarakat tidak hanya mencintai kethoprak tetapi juga menggemari budaya yang lain, yaitu tayub. Tayub adalah kesenian tradisional dalam bentuk menari bersama antara pemain atau ledek dengan pengunjung yang diiringi gamelan Jawa.

Di beberapa desa pada waktu sedekah bumi tidak bisa lepas dari kesenian tayub. Hal ini terjadi karena pada jaman dahulu para leluhur dan cikal bakal pendiri desa menyukai kesenian tayub. Dan masyarakat juga penggemar berat kesenian tayub. Sehingga pada waktu pentas kethoprak disisipkan pula seni tayub.

Salah satu daerah yang menyisipkan kesenian tayub sebelum pentas kethoprak adalah Dukuh Mlawat, Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah pada hari Senin (11/5/2026). Kesenian tayub diperagakan 3 ledek kethoprak setelah pentas Tari Gambyong. Ada 6 pria yang menari bersama ledek tayub tersebut. Berbagai gending dimunculkan untuk mengiringi para penari tayub, di antaranya adalah Becak Pati.

Waga yang “nayub” atau menari sangat menikmati hiburan tayub tersebut. Gerak tarinya mengikuti irama gamelan yang ditabuh oleh para pengrawit. Hal ini menunjukkan bahwa kesenian tayub masih populer di masyarakat Desa Baleadi dan sekitarnya.

Setelah pagelaran tayu di atas panggung selesai, dilanjutkan pementasan Kethoprak Cahyo Mardhiko pimpinan Anjar Pramesti dari Desa Bungasrejo Kecamatan Jakenan Kabupaten Pati. Pada pentas malam itu mengambil cerita Damarwulan Ngratu yang berlatar belakang Kerajaan Majapahit.

Pementasan semakin meriah berkat penampilan emban terkenal yaitu Irma Blenuk dan Hesti Menyes yang menghibur penonton dengan berbagai macam lagu dandut dan campur sari. Tidak ketinggalan dagelan atau pelawak ikut mengocok perut penonton yang diperegakan oleh Gleyor, Putrip dan Encus.

Inilah wujud kearifan lokal yang masih dipelihara dengan baik di Dukuh Mlawat untuk melestarikan seni tayub dan kethoprak dalam satu pementasan dalam wujud acara sedekah bumi.

Wartawan:ek

Editor:and

Spesial Produk Kopi

Berita Lainnya