Lereng muria – Tradisi pada waktu menyambut malam Lailatul Qodar (malam turunnya Al Qur’an) tiap daerah di Indonesia berbeda-beda. Di lingkungan masyarakat Islam Jawa biasanya dikenal dengan istilah Maleman. Maleman ini jatuh pada tanggal 21, 25, 27, 29 bulan Ramadhan atau malam ganjil di atas tanggal 20.
Pada malam ganjil tersebut oleh masyarakat Jawa diyakini malam turunnya Al Qur’an. Oleh karena itu masyarakat mengadakan berbagai macam acara untuk menyambut Lailatul Qodar. Di Kelurahan Punggursugih Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora Jawa Tengah, masyarakat Muslimnya mengadakan kegiatan Malem Selikur atau Malam Keduapuluh Satu di bulan Ramadhan.
Pada malam tersebut (Selasa,10/3/2026), umat Islam membawa sedekah nasi berkat, kue, roti, jajanan, aneka buah-buahan dan lain sebagainya ke Masjid Al Huda Punggursugih. Diawali dengan sholat Isya’ dan tarawih serta Witir berjamaah.
Setelah sholat, warga melakukan doa bersama untuk menyambut datangnya Lailatul Qodar. Dilanjutkan dengan makan bersama semua jamaah yang hadir di masjid. Warga dengan penuh kegembiraan menikmati hidangan yang disedekahkan. Dari berbagai tingkatan usia bersama-sama memakan makanan yang disediakan.
Kegiatan tersebut sudah merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat Punggursugih. Seperti yang dituturkan oleh Ibu Darsi (63 tahun) warga Punggursugih bahwa Malem Selikur sudah tradisi sejak lama dan turun temurun. “Malem Selikur ini sudah tradisi bagi masyarakat Punggursugih. Kami membawa berbagai macam makanan untuk sedekah dan dimakan bersama-sama di Masjid Al Huda. Tadi saya membawa buah pisang,”tutur Ibu Darsi. “Untuk malam 25 dan 27 dirayakan di masjid atau mushola yang lain,”imbuhnya.
Di Malem Selikur ini, jamaah Masjid Al Huda berdoa semoga dipertemukan dengan Lailatul Qodar dan memberikan keberkahan untuk umat Islam serta mendapatkan ampunan, memudahkan jalan rejeki dan kesehatan dari Allah Yang Maha Kuasa.
Wartawan:ek
Editor:amt




