Logo Lerang Muria Baru 500px Hitam

BERANGKAT KERJA, BANCAKAN JAJAN PASAR DAN BUBUR ABANG 

Bancakan jajan pasar dan bubur abang menjadi tradisi yang mengiringi hajat berangkat kerja masyarakat Jawa
Bancakan jajan pasar dan bubur abang menjadi tradisi yang mengiringi hajat berangkat kerja masyarakat Jawa

Lereng muria –            Kearifan lokal atau tradisi di Indonesia memang sangat beragam modelnya. Tradisi tersebut tetap menempel di kehidupan masyarakat dan berkembang sesuai dengan situasi jaman. Salah satunya adalah sedekah dan bancakan jajan pasar dan bubur abang.

Ada tradisi yang berkembang di masyarakat Jawa, apabila akan berangkat kerja ke luar kota maka mengadakan kondangan atau bancakan jajan pasar dan bubur merah atau bubur blowok. Jajan pasar yang disiapkan berupa cetot, grontol, hoyok-hoyok, lopes, getuk, pilus, gembili, tape, krupuk, kripik dan lain sebagainya. Sedangjan bubur blowok yang disediakan berupa bubur abang (merah) yang di tengahnya diberi bubur putih.

Hal tersebut dilakukan agar orang yang berangkat kerja diberikan keselamatan, kesehatan, keberkahan dan keberhasilan. Di tempat yang baru nanti dapat adaptasi dengan baik dan kemudahan bergaul dengan masyarakat baru nantinya.

Pada hari Jumat (10/4/2026), keluarga Mbah Mihani (72 tahun) yang berdomisili di Perum Rendole Indah Desa Muktiharjo Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati Jawa Tengah mengadakan bancakan jajan pasar dan bubur abang untuk cucunya yang akan berangkat kerja ke luar kota. Mbah Mihani memanggil tetangga yang dipandang mampu untuk “nandukke” atau membaca doa versi agama Islam. Setelah acara berdoa selesai, jajan pasar dan bubur abang dibagikan atau disedekahkan kepada tetangga sekitar.

Tetangga yang menerima sedekah tersebut juga turut mendoakan hajat Ibu Mihani agar berhasil. Doa tersebut juga diucapkan dengan ikhlas demi hajatnya sang empunya hajat.

“Hari ini kami kondangan jajan pasar dan bubur abang. Kami sedekahkan kepada tetangga sekitar. Semoga hajat kami terkabul dan mendapatkan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa serta dimurahkan rejeki,”tutur Mbah Mihani.

Itulah kearifan lokal masyarakat Jawa yang berkembang sampai sekarang. Para generasi mudanya juga masih berpegang teguh kepada tradisi tersebut karena dipandang bermanfaat untuk kehidupan bermasyarakat.

 

Wartawan:ek

Editor:amt

Spesial Produk Kopi

Berita Lainnya