Logo Lerang Muria Baru 500px Hitam

BULAN SYAWAL- APIT: BERLAWANAN

Ilustrasi hajatan pernikahan di bulan Syawal di masyarakat Indonesia
Ilustrasi hajatan pernikahan di bulan Syawal di masyarakat Indonesia

Lereng Muria –             Di masyarakat Jawa terdapat berbagai bulan yang bagus untuk mengadakan hajatan atau kerja. Selain itu juga ada bulan yang tidak cocok untuk mengadakan hajatan. Itu semua berdasarkan ilmu petungan atau perhitungan tradisi Jawa.

Bulan Syawal tahun ini, kita dapat menjumpai ratusan warga yang menggelar hajatan, baik di rumah maupun di hotel. Bahkan, sehari dapat menghadiri undangan hajatan lebih dari satu rumah.

Hal ini tidak lepas dari tradisi bahwa bulan Syawal sangat baik dan digemari untuk untuk acara hajatan karena tradisi sosial yang mengiringinya. Yaitu setelah lebaran ketupat, akan sangat meriah ketika mengadakan hajatan. Di bulan Ramadhan, masyarakat Muslim Jawa tidak mengadakan acara hajatan karena berpuasa. Maka hajatan ditempatkan di bulan Syawal sebagai hari yang Fitroh (suci).

Selain itu ada maksud mengikuti Sunah Rasul. Ketika bulan Syawal Nabi Muhammad SAW menikahi Aisyah RA. Dan ini banyak diikuti oleh Muslim Jawa.

Sedangkan di bulan Apit atau Dzulqo’dah dihindari untuk mengadakan hajatan. Hal ini dikandung maksud untuk menghindari kondisi “terjepit” apabila tetap melangsungkan hajatan. Terjepit atau terhimpit ini kategori tidak bagus dalam kehidupan berumah tangga sehingga dapat menimbulkan kurang lancar rejeki dan banyak menerima kesialan serta perceraian.

Di bulan Apit juga banyak digunakan untuk acara sedekah bumi sehingga persiapan biaya difokuskan untuk tradisi tahunan tersebut. Pada akhirnya warga tidak melakukan hajatan tetapi dipusatkan untuk ritual sedekah bumi atau memetri bumi.

Ada juga yang beranggapan bahwa pada bulan Apit digunakan untuk menabung. Karena pada bulan Dzulhijjah atau Besar digunakan untuk membeli hewan kurban baik berupa kambing atau pun sapi dan merayakan Hari Raya Idul Adha.

Semua pendapat tersebut sah-sah saja. Semua bersumber dari kearifan lokal yang sudah turun temurun. Dan dilestarikan oleh masyarakat Indonesia, khususnya Jawa.

Wartawan:ek

Editor:and

Spesial Produk Kopi

Berita Lainnya