Logo Lerang Muria Baru 500px Hitam

Nyadran: Tradisi Ziarah Leluhur Khas Pati Jelang Ramadhan yang Sarat Makna

Tradisi nyadran yang mengingatkan kita akan jasa leluhur dan mendoakannya
Tradisi nyadran yang mengingatkan kita akan jasa leluhur dan mendoakannya

Lereng Muria –         Pati, Indonesia – Mendekati bulan suci Ramadan, semarak tradisi menyelimuti berbagai sudut, terutama di Kabupaten Pati. Salah satu ritual turun-temurun yang tak pernah absen dan selalu dinanti adalah Nyadran. Tradisi ini menjadi penanda penting bagi masyarakat Pati untuk menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih, melalui ziarah ke makam leluhur, mendoakan, membersihkan, serta mempererat silaturahmi.

Nyadran, yang berakar dari ajaran menghormati para pendahulu, di Pati sendiri dilaksanakan dengan penuh khidmat. Biasanya, tradisi ini bergulir seminggu hingga beberapa hari sebelum datangnya bulan puasa, biasanya dilakukan di hari Kamis. Warga desa dari berbagai penjuru Pati, baik tua maupun muda, berbondong-bondong menuju kompleks pemakaman umum terdekat. Dengan membawa air dalam botol, bunga, dan juga buku yasin untuk mendoakan sanak keluarga di makam tersebut. Selain itu, juga membersihkan rerumputan liar untuk dicabut, dedaunan kering disapu, diikuti dengan taburan bunga wangi dan air yang menambah kekhusyukan.

Aspek spiritual menjadi inti dari Nyadran di Pati. Setelah makam bersih, keluarga berkumpul untuk memanjatkan doa bersama bagi arwah para leluhur. Doa-doa tahlil dan istighfar dilantunkan, memohon ampunan dan rahmat Allah SWT bagi mereka yang telah mendahului. Suasana haru dan reflektif seringkali tercipta, mengingatkan akan hubungan tak terputus antara generasi sekarang dan masa lalu.

Biasanya sebelum ritual ziarah dilaksanakan, atau tergantung di daerah masing-masing, ada tradisi Nyadran di Pati yang sering dilakukan, yaitu “bancakan” atau “sedekah bumi” di beberapa tempat. Contohnya masyarakat Desa Purwodadi Mrican Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati, membawa aneka berkat dari rumah masing-masing, kemudian dikumpulkan di satu tempat (mushola/masjid). Dibacakan nama dan tempat makam sanak saudara yang sudah meinggal, tahlil, mengaji, lalu dibagikan berkatnya. Pembagian berkat juga acak, jadi mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang sederhana dan ridak selalu menuntut. Momen kebersamaan ini menjadi ajang guyub rukun, saling berbagi, dan memperkuat ikatan persaudaraan antarwarga, sekaligus wujud syukur atas berkah dan panen yang melimpah.

Nyadran di Pati bukan sekadar kebiasaan, melainkan penjaga nilai-nilai luhur. Nyadran juga mengajarkan tentang pentingnya menghargai sejarah, menghormati jasa para leluhur, serta memupuk rasa kebersamaan dan gotong royong. Di tengah arus modernisasi, tradisi ini tetap kokoh sebagai warisan budaya yang tak hanya menjaga spiritualitas, tetapi juga memperkuat identitas sosial masyarakat Pati. Ini adalah persiapan menyeluruh, baik secara spiritual maupun sosial, untuk menyambut bulan Ramadan yang penuh berkah.

 

Penulis: Rizma Azizah (Aktifis Keagamaan di Pati)

Editor:and

 

 

Spesial Produk Kopi

Berita Lainnya