Lereng Muria – Berbagai adat kebiasaan sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam berbagai segi kehidupan. Mulai dari proses di dalam kandungan ibu sampai kematian manusia. Diantaranya ketika masyarakat Jawa mengiring pengantin laki-laki menuju ke rumah mempelai perempuan. Berbagai adat kearifan lokal dilakukan dalam rangka keselamatan dan keberhasilan dalam mengelola kehidupan bahtera rumah tangga. Salah satunya adalah membuang ayam kuthuk atau ayam yang masih muda ketika pengantin melewati jembatan di sebuah sungai. Ayam kuthuk tersebut dibuang atau lebih tepatnya dilepas sebelum melewati jembatan di sebuah sungai dengan tujuan tertentu. Tentu saja ada lafal tertentu atau niatan tertentu yang harus diucapkan ketika membuang ayam kuthuk tersebut. “Saya tidak membuang ayam kuthuk tetapi membuang sial pengantin ini”, itulah yang diucapkan ketika seseorang diberi tugas membuang ayam di pinggir jembatan.

Hal itu pernah dilakukan ketika Moh. Khayat warga Desa Semirejo Kecamatan Gembong Pati menikah mendapat jodoh seorang perempuan di Desa Bageng Gembong pada tahun 2000. Pada waktu iring-iringan pengantin melewati jembatan di Desa Wonosekar Gembong, petugas yang diberi kewajiban melepas ayam kuthuk langsung membuangnya di pinggir jembatan sungai yang alirannya berasal dari Waduk Seloromo Gembong tersebut. Hal yang sama juga dilakukan oleh Eko warga Gembong Pati ketika mendapat jodoh warga Ngawen Blora pada tahun 2002. Pada waktu melewati Jembatan Juwana juga membuang ayam kuthuk di pinggir sungai terbesar di Kabupaten Pati itu. Tentu saja dengan harapan tidak membuang ayam kuthuk tetapi membuang kesialan pengantin dengan harapan langgeng menempuh kehidupan berumah tangga. Itulah salah satu kearifan lokal yang dilakukan masyarakat Jawa dalam rangka menjaga keseimbangan hidup. Dengan harapan selamat, tentram, bahagia murah sandang dan pangan serta guyub rukun sekeluarga.
Wartawan:ek
Editor:and




